Q n AKesehatan

Apa arti minimalis bagimu sebagai pilihan gaya hidup?

Simplify many things without losing those values.

Dari sekian cara untuk mencari arti, yang termudah adalah menelaah aspek kebahasaannya. ‘Arti’ dapat diposisikan sebagai sebuah objek, lantas ‘bahasa’ merupakan penunjuk presisi atas objek tersebut. Logika semiotik yang mendasar seperti ini dapat digunakan dalam mengartikan banyak hal, termasuk gaya hidup minimalis.

Saya hampir memulai jawaban dengan membedah ‘minimalis’ sebagai turunan dari kata ‘minimal’ yang diberi imbuhan ‘-is’. Realita kebahasaannya di Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) ternyata tidak demikian. KBBI menyatakan bahwa ‘minimalis’ dan ‘minimal’ merupakan dua kata yang berbeda.

Fumio Sasaki, guru minimalisme saya (acieah), merupakan orang pertama yang membuat saya cinta dan memahami makna gaya hidup minimalis. Sasaki mengartikan gaya hidup minimalis dengan menggabungkan esensi kata ‘minimalis’ dan ‘minimal’ di atas. Gaya hidup minimalis menurut Fumio Sasaki ialah:

tahu persis hal-hal apa saja yang bersifat pokok bagi dirinya, dan yang mengurangi jumlah kepemilikan barang demi memberi ruang bagi hal-hal utama itu.”

Goodbye, Things. Halaman 15.

Sasaki menekankan bahwa seorang minimalis selalu berusaha memenuhi kebutuhan hidupnya dengan kuantitas jasa/barang yang paling sedikit. Yang diminimalkan adalah kuantitas, bukan kualitas. Esensi gaya hidup minimalis menurut Sasaki ialah mengurangi jumlah barang tanpa menurunkan kesejahteraan dan kebahagiaan hidup.

Aspek spasial (luas/sempitnya ruangan) menurut Sasaki merupakan salah satu faktor utama penentu kualitas hidup seseorang.

Pemaknaan di atas bagi Fumio Sasaki tidak bersifat mutlak. Hal tersebut ditegaskan oleh Sasaki dalam buku yang sama, Goodbye, Things. Sasaki justru meyakini hal yang mungkin juga Anda yakini selaku penanya topik gaya hidup minimalis, yaitu:

“…Definisi yang saklek dan pasti tidak mudah dirumuskan,…”

“Tidak ada aturan yang pasti….”

“…, saya berpendapat bahwa tidak ada satu jawaban tunggal untuk mendefinisikan minimalis.”

Goodbye, Things. Halaman 15–16.

Ketiadaan definisi minimalis yang mutlak tidak membuat jadi saya pusing. Yang lebih perlu saya (dan mungkin Anda) pusingkan adalah seberapa besar komitmen personal dalam menerapkan gaya hidup minimalis. Saya (lagi-lagi) sepakat dengan Fumio Sasaki, bahwa esensi utama dari gaya hidup minimalis adalah:

“…, metode bagi tiap orang untuk mengenali hal-hal apa yang sungguh-sungguh penting baginya.”

“… upaya memangkas hal-hal yang tidak esensial agar kita bisa sepenuhnya menghargai hal-hal yang memang berharga bagi kita.”

Goodbye, Things. Halaman 16

Gaya hidup minimalis telah menjadi perangkat bagi saya untuk memaknai banyak hal secara lebih ekonomis dan praktis. ‘Ekonomis’ yang saya maksud ialah segala hal yang saya maknai haruslah berorientasi pada pemenuhan kebutuhan pribadi, instead of sebatas hanyut dalam norma behaviorial lingkungan sekitar. Adapun ‘praktis’ berarti minimalis harus dilakukan kapanpun dan dimanapun, tidak sebatas berhenti pada tataran teoritis hanya dengan menamatkan literatur minimalisme (buku Goodbye, Things misalnya).

Contoh sederhana dari “…ekonomis dan praktis” di atas paling sering saya lakukan pada aktivitas konsumsi informasi digital. Yes, I’m talking about notifikasi-notifikasi handphone dan sederet berita populer yang katanya harus diikuti agar tidak dianggap ketinggalan kabar. Berita COVID harus apdet, berita Pilpres 2024 harus apdet, berita artis ABC harus apdet; Batin saya “Ah, apa iya aku butuh info ini?”.

Apa benar kita harus dikit-dikit ikut arus, seperti contoh di atas? Gaya hidup minimalis membantu saya menemukan jawabannya. Berikut sebuah data singkat yang secara tidak langsung mampu memberikan jawaban mindblown nan mengerikan bagi saya, yaitu:

“… Saya pernah mendengar bahwa jumlah informasi yang diterima setiap hari oleh seseorang yang tinggal di Jepang setara dengan informasi yang diterima orang dari zaman Edo selama setahun, atau malah sepanjang hidupnya.”

Goodbye, Things. Halaman 19

Minimalis telah menjadi salah satu gaya hidup yang paling berarti bagi saya. Kalau pakai kasus konsumsi informasi digital pada paragraf sebelumnya, gaya hidup minimalis membantu saya untuk berusaha aktual (tetap up to date) dengan tetap menerapkan prinsip skala prioritas; Sebagian informasi akan saya lihat sekilas tanpa menjelek-jelekannya, namun sebagian lainnya bisa jadi saya perdalam jika memang sesuai kebutuhan personal saat ini.

Leave a Reply

Your email address will not be published.

Back to top button